Peluang Bisnis Wisata Medis di Indonesia: Menyongsong Masa Depan yang Menguntungkan

Saat ini wisata medis telah berkembang menjadi bisnis yang sangat menguntungkan, di mana selain bisa melayani pasien secara medis juga dapat mengembangkan jaringan pariwisata di suatu daerah atau di suatu negara. Wisata medis ini menjadi unggulan pada beberapa negara di Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Jepang, dan lain-lain. Jumlah uang yang terlibat juga sangat besar untuk kawasan ASEAN dengan omset 150 triliun per tahun dan untuk global dunia omsetnya mencapai 850 triliun per tahun.

Bagi Indonesia, peluang ini belum menjadi prioritas Pemerintah, dimana saat ini belum ada lembaga atau instansi khusus yang menangani masalah wisata medis. Semua pihak masih bekerja secara sendiri baik menyangkut pihak rumah sakit, perhotelan, travel agent dan lain-lain. Mengingat besarnya pasar yang akan digarap untuk turis
luar maupun turis domestik maka diharapkan pemerintah membuat sebuah manajemen terpadu untuk pengembangan wisata medis ini. Untuk kondisi Indonesia saat ini, peluang pariwisata masih terbuka lebar dan berkembang sebagai penyumbang 10% PDB nasional dan angka itu tertinggi di ASEAN. Kemudian pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri lainnya. Bidang pariwisata juga sebagai peringkat keempat penyumbang devisa nasional dan merupakan pertumbuhan devisa tertinggi yaitu 13%. Dan untuk bidang tenaga kerja pariwisata penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan. Target wisatawan mancanegara Indonesia yaitu sebanyak 20 juta orang di tahun 2019. Saat ini tahun 2018 targetnya adalah 17 Juta (data parekraf.co.id).

Dari data yang ada, perjalanan dan pengeluaran untuk wisata medis untuk regional Asia-Pasifik tahun 2012 bernilai sekitar 70 miliar USD. Sedangkan di tahun 2015 bernilai sekitar 112 miliar USD sehingga ada peningkatan sebanyak 60% per tahun. Untuk destinasi wisata medis (medical tourism) tingkat dunia di tahun 2016, sepuluh besarnya adalah Kanada, UK (Inggris), Singapura, Israel, Jerman, India, Perancis, Afrika Selatan, Italia, Spanyol. (Data maping the Future of Global Travel & Tourism 2016).

Diharapkan pemerintah Indonesia mempunyai perhatian dan upaya untuk meningkatkan wisata medis ini di Indonesia baik dengan sasaran turis mancanegara maupun turis domestik/lokal. Seperti kita ketahui di beberapa negara ASEAN, negara-negara tersebut sudah mempunyai lembaga atau institusi yang bertanggung jawab mengurus masalah wisata medis ini seperti di Malaysia oleh Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). Negara Singapura mempunyai Singapore Medical Tourist (SMT) dan Thailand mempunyai Thailand Medical Travel and Tourism (TMTT). Masing-masing lembaga itu menyediakan fasilitator yang mempersiapkan pasien secara fisik dan mental, menyusun kemudahan sistem pembayaran, bekerja sama dengan asuransi, melakukan penjemputan pasien di bandara dan transportasi, bahkan memperpanjang visa tinggal bagi pengunjung yang datang ke negara tersebut yang memerlukan perawatan dari 30 hari menjadi 90 hari. Peraturan tersebut juga berlaku bagi 4 orang pendamping pasien. Lembaga tersebut juga mengembangkan jaringan referral/perujuk dari luar negeri dan lembaga tersebut juga secara aktif berpromosi melalui media cetak dan elektronik serta komunitas.

(THTDC), lembaga ini merupakan fasilitator besar yang bekerja dengan jaringan global dan asosiasi rumah sakit yang secara bersama memperkenalkan produkproduk unggulan mereka yang kompetitif dalam pelayanan dan harga. Mereka selalu mengingatkan nggotanya untuk selalu senantiasa menjaga kualitas melalui akreditasi rumah sakit. Untuk Amerika Serikat dengan lembaga American Medical Tourism (AMT). Lembaga ini sangat unggul dalam memasarkan pengembangan teknologi medis dan inovasinya sangat banyak, sedangkan negara India dengan lembaga Medical India yang mempunyai unggulan memasarkan keunggulan India yang merupakan destinasi wisata dunia terkait dengan kebudayaan, pengembangan obat dan alat-alat kesehatan yang maju. Diharapkan pemerintah Indonesia secara aktif bekerja sama melakukan kolaborasi untuk pengembangan wisata medis ini, dimana melibatkan unsur dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pariwisata, Rumah Sakit – Rumah Sakit para akademisi di bidang pariwisata dan kesehatan, media, pengusaha di bidang perhotelan dan travel serta dorongan dari masyarakat umum sehingga akan
meningkatkan pemasukan dan mencegah keluarnya devisa karena masih banyaknya warga Indonesia yang melakukan wisata medis ke negara-negara lain.

Sedangkan beberapa contoh negara lain yang mempunyai lembaga tersebut adalah Turki dengan Turkish Healthcare Tourism Development Council (THTDC), lembaga ini merupakan fasilitator besar yang bekerja dengan jaringan global dan asosiasi rumah sakit yang secara bersama memperkenalkan produk-produk unggulan mereka yang kompetitif dalam pelayanan dan harga. Mereka selalu mengingatkan anggotanya untuk selalu senantiasa menjaga kualitas melalui akreditasi rumah sakit. Untuk Amerika Serikat dengan lembaga American Medical Tourism (AMT). Lembaga ini sangat unggul dalam memasarkan pengembangan teknologi medis dan inovasinya sangat banyak, sedangkan negara India dengan lembaga Medical India yang mempunyai unggulan memasarkan keunggulan India yang merupakan destinasi wisata dunia terkait dengan kebudayaan, pengembangan obat dan alat-alat kesehatan yang maju. Diharapkan pemerintah Indonesia secara aktif bekerja sama melakukan kolaborasi untuk pengembangan wisata medis ini, di mana elibatkan unsur dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pariwisata, rumah sakit–rumah sakit, para akademisi di bidang pariwisata dan kesehatan, media, pengusaha di bidang perhotelan dan travel serta dorongan dari masyarakat umum sehingga akan meningkatkan pemasukan dan mencegah keluarnya devisa karena masih banyaknya warga Indonesia yang melakukan wisata medis ke negara-negara lain.

Untuk awal, pemerintah Indonesia dan instansi terkait bisa memasarkan keunggulan rumah sakit–rumah sakit yang sudah mendapatkan akreditasi internasional (JCI). Aspek lain di bidang wisata medis ini adalah pemerintah bisa lebih mendorong pengembangan fasilitas daerah-daerah wisata, infrastruktur, jalan dan transportasi
serta mengembangkan aspek wisata halal (halal tourism).

Leave A Comment